NURDIANSYAH, Syarif Irwan (2017) Status Reproduksi dan Komposisi Kimia Oosit Cacing Nipah (Namalycastis Rhodochorde) Betina pada Semua Kuartal Siklus Lunar. Masters thesis, Universitas Jenderal Soedirman.
|
PDF (Cover)
1 cover.pdf Download (610kB) |
|
|
PDF (Legalitas)
2 legalitas.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
PDF (Abstrak)
3 abstrak.pdf Download (843kB) |
|
|
PDF (BabI)
4 bab 1.pdf Restricted to Repository staff only until 27 January 2027. Download (676kB) |
|
|
PDF (BabII)
5 bab 2.pdf Restricted to Repository staff only until 27 January 2027. Download (843kB) |
|
|
PDF (BabIII)
6 bab 4.pdf Restricted to Repository staff only until 27 January 2027. Download (893kB) |
|
|
PDF (BabIV)
7 bab 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (855kB) |
|
|
PDF (BabV)
8 bab 5.pdf Download (584kB) |
|
|
PDF (DaftarPustaka)
9 dapus.pdf Download (879kB) |
|
|
PDF (Lampiran)
10 lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (981kB) |
Abstract
Cacing nipah (Namalycastis rhodochorde) merupakan spesies yang baru diketahui dari kelompok Polychaeta dan memiliki pola reproduksi monotelik yang memijah (spawning) hanya satu kali dalam satu siklus hidup. Tingkat kematangan seksual cacing nipah (Namalycastis rhodochorde) terdiri dari immature, submature dan mature. Cacing Polychaeta betina memiliki tingkat kematangan yang dapat diidentifikasi berdasarkan komposisi dan diameter oosit. Pemijahan pada cacing Polychaeta yang berada pada fase reproduksi (mature) dikoordinasi oleh faktor eksternal (siklus lunar) dan faktor internal (system endokrin). Penelitian pengaruh siklus lunar terhadap status reproduksi cacing nipah (Namalycastis rhodochorde) betina telah dilakukan untuk mengkaji tingkat kematangan seksual berkaitan dengan diameter oosit cacing nipah yang keluar dari sarang (tumbuhan nipah) serta komposisi kimiaoosit pada semua kuartal siklus lunar, yaitu kuartal new moon, kuartal 1, kuartal full moon dan kuartal III. Oosit, dari 10 ekor cacing nipah yang disampling dari Delta Sungai Kapuas Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat selama tiga bulan berturut-turut (Maret, April dan Mei 2014). Oosit diisolasi dari betina dengan cara menyayat tubuh cacing untuk mendapatkan cairan selom yang mengandung oosit. Sebagian kecil cairan selom diambil untuk pengukuran diameter oosit sebagai parameter tingkat kematangan seksual cacing nipah. Sebagian besar cairan selom diinkubasi pada temperatur rendah (5 °C) untuk disimpan sebelum dilakukan analisis komposisi kimia. Analisis komposisi kimia dilakukan pada oosit yang diisolasi dari cairan selom. Komposisi lipid dianalisis dengan metode Gerber, protein dianalisis dengan metode kjeldahl dan glukosa dianalisis dengan metode Smogy-Nelson. Hasil penelitian membuktikan bahwa siklus lunar menentukan atau setidaknya berpengaruh pada keluarnya cacing betina dari sarangnya, yaitu tumbuhan nipah. Cacing betina submature (100%) ditemukan pada kuartal new moon (NM), dan kuartal I (K1). Pada kuartal III (K3) ditemukan 93,33% dan di kuartal full moon (FM) hanya 40%. Sebanyak 60% cacing nipah betina yang dikoleksi pada kuartal full moon (FM) berada pada tahap reproduksi atau mature. Data diameter oosit sebagai parameter tingkat kematangan seksual cacing nipah betina sampel terbukti berbeda sangat nyata (P<0,01) antar 12 waktu sampling siklus lunar. Hasil analisis data kandungan lipid pada oosit cacing nipah sampel menunjukkan bahwa kandungan lipid berkisar antara 13,95±44,41– 22,20±2,99 ppm, kandungan protein berkisar antara 75,76±12,33–150,08±20,34 ppm dan glukosa berkisar antara 75,89±10,53–99,18±7,2 ppm. Hasil analisis statistik data komposisi kimia oosit ke-12 kuartal sampling terbukti bahwa kandungan protein dan glukosa sangat berbeda nyata (P<0,01), sedangkan kandungan lipid tidak berbeda nyata (P>0,015). Hasil analisis korelasi Pearson membuktikan bahwa kandungan lipid, protein dan glukosa pada oosit cacing nipah berkorelasi sangat nyata (**; P<0,01) dengan diameter oosit. Kandungan lipid dan protein berkorelasi positif (secara searah) dengan diameter oosit, artinya peningkatan diameter oosit diikuti peningkatan kandungan lipid dan protein. Kandungan glukosa berkorelasi negatif (secara terbalik) dengan diameter oosit, artinya kandungan glukosa oosit akan menurun seiring dengan peningkatan diameternya. Hasil uji-T komposisi kimia (lipid, protein dan glukosa) serta diameter oosit antara sampel yang submature dan mature menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (sig.<0,001) antara keduanya. Hasil ini membuktikan bahwa terjadi perubahan komposisi kimia (lipid, protein dan glukosa) oosit seiring perubahan diameter oosit cacing nipah (N. rhodocorde) saat memasuki proses pematangan secara seksual. Secara keseluruhan penelititan ini membuktikan bahwa siklus lunar menentukan keluarnya cacing nipah betina dari sarang. Simpulan lain adalah tingkat kematangan reproduksi cacing nipah dapat ditentukan berdasarkan parameter diameter dan komposisi kimia oositnya.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Nomor Inventaris: | T2017009 |
| Uncontrolled Keywords: | Siklus lunar, Kuartal Full Moon, Cacing Nipah, Diameter Oosit, Lipid, Protein, Glukosa |
| Subjects: | A > A340 Animal reproduction W > W228 Worms |
| Divisions: | Program Pascasarjana & Profesi > S2 Biologi |
| Depositing User: | Mr Fathu Rahman Rosyidi |
| Date Deposited: | 27 Jan 2026 02:50 |
| Last Modified: | 27 Jan 2026 02:50 |
| URI: | http://repository.unsoed.ac.id:443/id/eprint/39237 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
